Yusuf Ekodono ketika tampil di Lapangan Kepuh Kemiri pada Sabtu (9/8/2025).Yusuf Ekodono ketika tampil di Lapangan Kepuh Kemiri pada Sabtu (9/8/2025).

Yusuf Ekodono merupakan legenda hidup sepak bola. Bukan hanya untuk klub kota kelahirannya, Surabaya, Persebaya, tapi juga Timnas Indonesia. Sebuah kebanggaan masih bisa menyaksikan aksinya di lapangan hijau di saat usianya sudah nyaris kepala enam.

SIDIQ PRASETYO, pinggir lapangan

YUSUF Ekodono tengah ancang-ancang melakukan tendangan penalti. Dia dipercaya menjadi penendang kelima dari Indonesia Timoer Gresik di babak semifinal Tunas Remaja Cup U50 2025 di Lapangan Kepuh Kemiri, Tulangan, Sidoarjo, Sabtu (9/8/2025).

Perlahan dia mundur. Dengan penuh keyakinan, Yusuf mengarahkan bola di pojok kiri gawang. Gol? Sayang, harapan hampir semua penonton yang ada di lapangan tersebut urung terlaksana. Kegagalan yang membuat Indonesia Timoer gagal memastikan kemenangan atas Ngoro All Stars, Kabupaten Mojokerto. Kegagalan yang membuat pemenangnya harus ditentukan lewat tos. Dan lagi-lagi, penendang Bintang Timoer gagal menyelesaikan menjadi gol dan membuat mereka tersingkir.

Meski gagal, tapi itu tak sedikit pun mengurangi nama besar seorang Yusuf Ekodono. Bagaimana pun, lelaki kelahiran Surabaya 16 April 1967 itu tetap sebagai sosok pesepak bola yang mengharumkan nama bukan hanya kota asalnya tapi juga Bangsa Indonesia.

Bagi Surabaya, Yusuf mampu membawa Persebaya menjadi juara kasta kompetisi sepak bola tertinggi Indonesia pada 1996/1997. Dia termasuk pilar yang mengantarkan Green Force, julukan Persebaya, mengakhiri dahaga gelar selama 10 tahun, setelah kali terakhir pada 1987/1988.

Hebatnya lagi, enam tahun sebelumnya, tepatnya 1991, Yusuf mengangkat nama Indonesia dengan meraih emas SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Bahkan gol yang dicetaknya sangat spesial. Yusuf melakukan panenka. Tembakan yang butuh keberanian dan skill tinggi karena tidak memakai ancang-ancang dan bola hanya dicungkil.

Anak muda mungkin sudah tidak mengenal sosok seorang Yusuf. Namun, bukan bagi mayoritas penonton di Lapangan Desa Kemiri. Salah satu buktinya ketika seorang penonton meminta anaknya yang masih berusia di bawah 10 tahun untuk berfoto dengan Yusuf sambil berkata agar anaknya bisa menjadi pesepak bola hebat seperti laki laki yang ada di depannya itu.

Di lapangan, skill dan aksi Yusuf seolah tak luntur. Dia masih berlari konsisten selama 2×30 menit. Umpan-umpannya pun sangat terukur dan memanjakan rekan-rekannya.

Sebuah kebahagiaan bisa menyaksikan sang legenda. Sambil berdoa dalam hati, semoga sehat selalu baginya dan semoga lain waktu bisa bisa melihatnya kembali di turnamen lain. Sebuah hal yang sebenarnya tak terlalu susah karena Yusuf termasuk pemain yang laris. Seperti pekan lalu, dia menjadi bagian dari Rosita saat menjadi juara di sebuah turnamen di Waru, Sidoarjo.

Saat pulang, Yusuf pun sempat bersalaman dan mendoakan selalu sehat. Seorang legenda yang tetap selalu menjaga atttitude-nya. (*)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *