Muhammad Abdullah Nabil Malik usai berlatih bersama Tim Persebaya U-17 di Lapangan Pusaka, Karangan, Kota Surabaya.Muhammad Abdullah Nabil Malik usai berlatih bersama Tim Persebaya U-17 di Lapangan Pusaka, Karangan, Kota Surabaya.
Muhammad Abdullah Nabil Malik usai berlatih bersama Tim Persebaya U-17 di Lapangan Pusaka, Karangan, Kota Surabaya.

Pendidikan di sekolah berbasis agama tak membuat semangat Muhammad Nabil menekuni sepak bola kendur. Sebaliknya, dia bisa membuktikan bahwa dia bisa membagi waktu antara sekolah dan sepak bola.

Sidiq Prasetyo – PINGGIR LAPANGAN

SEPEDA  motor dan beberapa mobil parkir berderet di Lapangan Pusaka, Karangan, Kota Surabaya, pada Jumat pagi (13/6/2025). Padahal, jam sudah menunjukkan pukul 09.30 WIB. Ternyata di dalam tengah berlatih Tim Sepak Bola Persebaya U-17 yang tengah dipersiapkan menghadapi Piala Suratin 2025.

Tim tersebut ditangani langsung oleh salah satu  legenda Persebaya Surabaya, Yongki Kastanya. Jumlah pemain yang berlatih ada 31 orang.

Di antara deretan pemain tersebut ada sosok yang layak mencuri perhatian.  Dia adalah Muhammad Abdullah Nabil Malik.  Ini dikarenakan pemain yang akrab disapa Nabil itu sudah berangkat 3-4 jam sebelum latihan dimulai.

Kok bisa? ‘’Saya sekolahnya di SMP Progresif Bumi Shalawat di Sidoarjo. Kalau berangkat harus awal kalau tidak ingin terlambat,’’ ungkapnya.

Ya, saat ini, pemain kelahiran 10 November 2009 tersebut tengah menempuh pendidikan  di sekolah milik pemuka agama kondang KH Agoes  Ali Mashyuri, Nabil duduk di kelas 8.

‘’Saya berangkat seleksi sampai masuk ke tim selalu diantar ayah. Pagi-pagi ayah sudah ada pondok,’’ jelas Nabil.

Namun, sebelum mengikuti seleksi, dia harus meminta dispensasi kepada pihak pondok. Alasannya, Nabib sehari-harinya tinggal di tempat yang masuk wilayah Lebo, Kecamatan Kota Sidoarjo, tersebut.

Dia pun merasa senang saat namanya dinyatakan lolos seleksi. Padahal, ketika itu ada 260 pemain dari berbagai klub internal yang mengikuti seleksi tersebut.

‘’Dalam bermain, saya menempati posisi gelandang. Saya bisa bermain di posisi 8 dan 10,’’ ujar anak ketiga dari empat bersaudara tersebut.

Nabil sendiri selain menekuni sepak bola juga terjun di futsal. Dia beberapa kali membawa Pondon Pesantren Bumi Shalawat dan sekolahannya menjadi juara bersama tim Tim Futsal PROJHIS.

 Nabil sendiri mulai menekuni sepak bola sejak usia sembilan tahun. Kali pertama dia bergabung di klub Mitra Surabaya. Karena suka akan olahraga bola sepak itu, dia tak mempermasalahkan jarak rumah dan tempat berlatih.

Nabil dan orang tuanya tinggal di daerah Benowo, sementara Mitra Surabaya berlatih di Lapangan Poral di Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri. Jarak keduanya juga tak dekat, mencapai 15 kilometeran.

‘’Setelah itu, Nabil saya pindahkan ke Putra Mars. Saya ingin kemampuannya semakin berkembang dengan mengikuti kompetisi-kompetisi,’’ tambah M. Jamaludin Malik, ayah Nabil.

Pilihan tersebut tak salah. Apalagi klub yang juga bermarkas di Benowo ditangani oleh mantan pemain klub legendaris NIAC Mitra dan Persebaya Ali Mashuda.

‘’Saya inginnya sekolah dan sepak bola Nabil bisa berjalan bersama dan sama-sama berprestasi. Saya sebagai orang tua mengucapkan banyak terima kasih atas kemudahan yang diberikan SMP Progresif Bumi Shalawat sehingga Nabil bisa berlatih di Persebaya U-17 ini,’’ ujar Jamaludin. (*)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *