Misnadi saat tampil di Pesawad Cup U50 di Lapangan Wedoro, Waru, Sabtu (19/7/2025).Misnadi saat tampil di Pesawad Cup U50 di Lapangan Wedoro, Waru, Sabtu (19/7/2025).

Lini depan di kancah sepak bola Indonesia selalu diisi dan mengandalkan pemain asing. Bukan hanya sekarang tapi sejak kran legiun mancanegara tersebut diperbolehkan bermain. Tapi pernah ada satu nama penyerang lokal yang selalu masuk dalam daftar tertinggi pencetak gol terbanyak. Bambang Pamungkas, bukan? Lalu siapa?

SIDIQ PRASETYO, Pinggir Lapangan

USIANYA sudah tak muda lagi. Kerutan terlihat dari wajah seorang Misnadi. Meski rambutnya tetap hitam dan otot-otot, khususnya kaki, masih terlihat menonjok saat melangkah masuk ke lapangan Wedoro, Waru,  Kabupaten Sidoarjo, pada Sabtu (19/7/2025).

Dia hadir untuk membela sebuah klub dalam turnamen sepak bola di atas usia 50 tahun. Meski untuk itu, lelaki yang kini berusia 56 tersebut harus menempuh perjalanan hampir 160 kilometer. ‘’Saya mau cari keringat. Ada yang mengajak saya ke sini,’’ ungkap Misnadi.

Tak salah memang klub tersebut mendatangkan Misnadi jauh-jauh ke Kota Udang, julukan Kabupaten Sidoarjo. Dia selalu menjadi pahlawan bagi tim yang dibelanya itu. Bahkan, salah satu golnya ke gawang lawan, Gresik Selection, masih bisa dikatakan berkelas.

Tandukannya dari luar kotak penalti menghujam keras ke pojok gawang yang dikawal mantan lawannya dulu di era Galatama, Kuswo.  Tak bisa dipungkiri, skill Misnadi tak luntur bahkan bisa dikatakan tidak hilang.

Beberapa kali aksinya membuat penonton yang hadir berdecak kagum. Bisa dikatakan, mereka beruntung masih bisa melihat skill pemain yang berkibar namanya di Gelora Dewata, Bali, itu. Di masa mudanya, Misnadi bergabung dengan klub tersebut usai membela Bentoel Jember. Di tangan pelatih Rudy William Keeltjes, yang kini sudah meninggal, pemain asal Pasiran, Lumajang, itu semakin meningkat.

Tak salah Gelora Dewata mendatangkannya. Di Galatama, kompetisi sepak bola semiprofesional yang pernah ada di Indonesia, Misnadi hampir selalu masuk dalam daftar pencetak gol terbanyak. Bahkan, ketika pemain asing diizinkan bermain di Liga Indonesia, kompetisi yang menggabungkan antara Galatama dan Perserikatan, sejak 1994/1995, capaian itu tetap dia pertahankan.

Bahkan, dia mengaku sempat membuat klub Jerman kepincut. Hanya, Gelora Dewata masih membutuhkan Misnadi untuk mengarungi kompetisi. Setelah dari Gelora Dewata dan ikut pindah ke Sidoarjo dengan nama Gelora Putra Delta atau GPD, sekarang menjadi Deltras, Misnadi mulai  menyiapkan hari tua dengan memilih bergabung dengan klub yang tak jauh dari Lumajang. Persid Jember dan Persipro Probolinggo pernah menjdi pelabuhan karirnya sebagai pemain sebelum pensiun berlaga di kompetisi PSSI.

Usai gantung sepatu, Misnadi kemudian menjadi pelatih. Tim kampung halaman,PSIL Lumajang, dan Persid pernah ditangani. Namun, dia tetap tak pernah menolak jika ada undangan berlaga di kompetisi antarkampung atau tarkam. Apalagi, khusus untuk pemain di atas 50 tahun.

‘’Misnadi masih spesial. Saat klub ada yang butuh striker, saya rekomendasikan Misnadi langsung,’’ papar Nus Yadera, sahabat Misnadi dari Gelora Dewata hingga sekarang. (*)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *