SAYA tengah berada di perjalanan menuju sebuah kota di jalur pantai utara bagian timur Provinsi Jawa Timur. Untuk membuang kebosanan, saya menskrol status para teman yang nomornya tersimpan di telepon seluler.
Ada sebuah status yang membuat saya langsung terhenti. Ini dikarenakan statusnya membuat sedih, bahkan sangat sedih. Tulisannya, ‘’Suargo langgeng Pak Yudi.’’ Dengan di atas tulisan di status tersebut foto seorang yang bukan hanya saya kenal tapi sangat akrab. Bukan hanya sebagai seorang narasumber berita ataupun pengisi di konten media sosial yang saya kelola.
Yudi atau lebih lengkapnya Yudi Suryata sudah seperti saudara dan kakak. Saya mulai mengenalnya lebih dekat ketika Mas Yudi, begitu saya menyapa, menjadi pelatih Gelora Putra Delta atau GPD Sidoarjo, sebuah klub dengan nama baru setelah sebelumnya bernama Gelora Dewata Bali. Meski sebelum-sebelumnya nama itu selalu saya baca ketika Mas Yudi menjadi pelatih di Persijap Jepara. Bagaimana kiprahnya menangani pemain-pemain muda di Kota Ukir, julukan Jepara, bisa menembus tingkat nasional. Sebuah daerah yang namanya hampir tak pernah disebut dalam pusaran sepak bola Indonesia. Namun di tangan seorang Mas Yudi, daerah tersebut menjadi disegani di level senior dan kemudian hari di tingkat senior karena pondasi yang ditanamnya.
Meski untuk seorang Mas Yudi, menjadi pelatih bagi pemain berusia 17 tahun ke bawah atau junior dianggap kemunduran. Bagaimana tidak, Yudi adalah mantan pemain nasional Indonesia dan mampu mengangkat dua klub besar, Persebaya Surabaya dan NIAC Mitra Surabaya, juara. Nama Mas Yudi masuk dalam daftar skuad Green Force, julukan Persebaya, juara perserikatan 1975/1977 dan menjadi pilar NIAC Mitra juara Galatama dua musim 1981/1982 dan 1982.1983.
Bahkan, sebelum menangani anak-anak muda Jepara, dia menjadi asisten pelatih di NIAC Mitra. Namun, baginya itu tak masalah. Karena kecintaanya, untuk ke Jepara dari tempat tinggalnya di Masaran, Sragen, Mas Yudi rela naik sepeda motor Binter miliknya. Jarak yang lumayan jauh untuk ditempuh.
Kami semakin intens berkomunikasi, ketika Mas Yudi mulai meninggalkan Jepara dan menjadi pelatih senior. Banyak klub yang pernah ditangani lelaki lelahiran 25 November 1954 tersebut. Mulai dari PSS Sleman, GPD, Persipura, Persis Solo, hingga Mitra Kutai Kartanegara.
Ketika sudah sering di rumah karena mulai mengurangi aktivitas menjadi pelatih, saya sering ke rumah Mas Yudi yang tepat berada di jalan raya Solo-Surabaya di wilayah Masaran. Ngobrol di teras rumah dan berbincang banyak tentang sepak bola nasional masa lalu dan terbaru. Sambil melihat Mas Yudi menikmati setiap kepulan asap rokoknya.
Lebaran 2024, saya tak sempat datang ke rumah Mas Yudi. Saya punya pikiran, nanti saja lah kalau pas pulang ke Solo atau ke Sragen. Mas Yudi pasti sehat-sehat selalu.
Hingga akhirnya, 26 Juli 2025, saat di dalam bus, tak terasa mata terasa memerah dan menahan tetesan air bening keluar dari mata. Seorang sahabat, kakak, dan narasumber terbaik berpulang. Innalillahi wa innailahi rojiun. Selamat jalan Mas. Panjengan orang baik. (*)
Sidiq Prasetyo
Pengelola Pinggir Lapangan
