Sunaryo (kiri depan) dan Manajer PSISra Sragen Agus bersama asisten dengan para pemain U-17 di Stadion Taruna Sragen.Sunaryo (kiri depan) dan Manajer PSISra Sragen Agus bersama asisten dengan para pemain U-17 di Stadion Taruna Sragen.

Menangani tim junior sepertinya kurang bergengsi bagi para pelatih-pelatih yang sudah punya nama. Tapi tidak dengan Sunaryo, legenda hidup sepak bola Kabupaten Sragen.

Sidiq Prasetyo- PINGGIR LAPANGAN

LISENSI yang dimiliki sudah B. Layaknya seorang Sunaryo sudah bisa menangani Tim Liga 4 sesuai dengan regulasi dari PSSI.

Apalagi, kali terakhir, lelaki 51 tahun tersebut menjadi asisten sebuah klub Liga 3. Bahkan, pada musim 2024/2025, Naryo, begitu dia disapa, sempat mendapat tawaran beberapa tim di Sragen dan sekitarnya untuk menjadi pelatih.

Namun, ternyata seorang Naryo lebih cinta akan kampung halaman. Dia tak ragu dan tak perlu butuh pertimbangan lama saat mendapat tawaran menangani PSISra Sragen U-17 untuk ajang Piala Suratin 2025.

”Yang menawari saya menjadi pelatih adalah Sekretaris PSISra dan Manajer U-17 Mas Agus,” ungkap Naryo. Agus, tuturnya, adalah mantan Kepala Desa Mojorejo, Kecamatan Karangmalang, yang suka akan sepak bola.

Meski, dia mengakui tawaran tersebut adalah sebuah tantangan. Apalagi, lelaki asal Karangmalang, Sragen, tersebut hanya punya waktu sekitar satu bulan.

”Cari pemain U-17 di Sragen sulit. Tapi, kami akan berusaha sebaik mungkin,” jelas Naryo.

Dalam seleksi yang sudah dilaksanakan, pada hari pertama, paparnya, ada 75 pemain yang hadir. Kemudian, pada hari kedua, ungkap Naryo, ada 42 pemain.

”Saat ini sudah mengerucut menjadi 31 pemain. Rencananya akan ada 25 pemain yang masuk ke PSISra Sragen di Piala Suratin U-17,” jelasnya.

Sebenarnya, menjadi staff pelatih di PSISra bukan kali pertama bagi Naryo. Sebelumnya, dia pernah menjadi asisten pelatih di level senior.

”Ketika itu, pelatih kepalanya Sinyo Aliandoe (mantan pemain dan pelatih Tim Nasional Indonesia). Untuk U-17, saya juga pernah menjadi pelatih kepala saat materi pemainnya kelahiran 1999,” tambah Naryo.

Hanya, ketika itu, Laskar Sukowati Muda, julukan PSISra U-17, belum berprestasi. Dalam menjalankan tugasnya sekarang, Naryo dibantu oleh Dirga dari Kecamatan Gemolong dan Ndari asal Kecamatan Plupuh.

Naryo sendiri di Kabupaten Sragen merupakan legenda hidup. Saat masih bermain, dia pernah membela beberapa klub. Bakatnya di Sragen tercium Indocement yang memboyongnya ke Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Setelah klub itu merger dengan Perkesa Mataram dan menjadi Mataram Indocement, bapak dua anak ini pindah ke Jogja yang menjadi home klub tersebut.

Dengan bergabung Mataram Indocement, Naryo merasakan persaingan di kompetisi sepak bola teratas di Indonesia. Salah satu rekannyan di tim tersebut adalah Gomes de Oliveira asal Brasil yang juga pernah membela Persebaya Surabaya.

Dari Mataram Indocement, Naryo membela dua tim dari Pulau Bali, Persekaba Kabupaten Badung dan Persegi Gianyar. Bahkan, namanya ada dalam daftar nama Persema Malang ketika ditangani oleh mantan pelatih Tim Nasional Indonesia Danurwindo. Naryo sempat pulang membela PSISra sebelum menutup karir sebagai pemain di Persipur Purwodadi di Divisi I yang kala itu menjadi kasta kedua kompetisi di Indonesia.

Demi karir sepak bola, Naryo rela melepas pekerjaannya sebagai pegawai di Kabupaten Sragen. Dan sekarang dia pun dalam usia sudah berkepala 5 tetap dijalani dengan penuh keikhlasan sebagai honorer.

Tapi itu tak membuat kecintaan kepada daerah asalnya luntur. Salah satunya menerima tawaran menjadi pelatih PSISra , meski di level U-17. (*)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *