Para pemain ASTI Kudus U-15 merayakan gelar juara Piala Presiden 2025 di atas podium di depan Ketua Umum PSSI sekaligus Menpora Erick Thohir di Stadion Gelora 10 November Surabaya Kamis sore (2/10/2025).Para pemain ASTI Kudus U-15 merayakan gelar juara Piala Presiden 2025 di atas podium di depan Ketua Umum PSSI sekaligus Menpora Erick Thohir di Stadion Gelora 10 November Surabaya Kamis sore (2/10/2025).

SURABAYA I pinggirlapangan– Mental juara Akademi Sarana Talenta Indonesia (ASTI)layak dapat acungan jempol. Bagaimana tidak, gol pemainnya dianulir oleh wasit setelah melihat VAR (Video Assistant Referee). VAR adalah teknologi serta tim ofisial pertandingan yang menggunakan rekaman video dan sistem komunikasi khusus untuk membantu wasit utama dalam membuat keputusan penting di lapangan. Tujuannya adalah meminimalisasi kesalahan yang jelas dan nyata (clear and obvious error) atau insiden serius yang terlewat. Selain Liga 1 atau Super League dan Liga 2 atau Championship, baru Piala Presiden U-15 yang memakai teknologi itu.

Ironisnya bukan satu gol tapi dua gol. Pertandingannya pun tidak main-main, pertandingan final Piala Presiden U-15 melawan Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT), di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Kota Surabaya, Kamis sore (2/10/2025).

Gol pertama yang dianulir dicetak Ahmad Satrya di babak pertama. Tembakan keras pemain tengah asal Lampung Utara ini sukses menjebol gawang Malaka. Bahkan, selebrasi yang dilakukannya sangat berkelas dengan melakukan salto.

Sementara gol kedua yang dicetak M. Faqih dianulir karena rekannya yang memberi umpan, Caesar Akbar Dhana Setiawan, dianggap terlebih dulu melakukan pelanggaran kepada pemain Malaka.

”Saya percaya kalau sudah rezeki nggak ke mana, tetap milik ASTI Kudus. Namun, anak-anak juga punya mental yang kuat,” jelas CEO ASTI Kudus Arif Budiyanto seusai pertandingan.

Menurutnya, dengan usia yang masih sangat muda, mental M.Rizqi Mulia Putra Maulana dkk tak terpengaruh. Bahkan, mereka ingin kembali mencetak gol agar pemenang pertandingan perebutan juara yang berlangsung 2×30 menit itu tidak perlu melalui babak adu tendangan penalti.

Ternyata, keinginan itu tercapai. Sebuah umpan panjang mampu dimanfaatkan oleh Akbar, sapaan karib Cesar Akbar Dhana Setiawan. Sontekan putra mantan pemain PSIS Setiawan Londo itu langsung membuat skor berubah 1-0. Begitu bola diletakan di tengah, wasit yang memimpin pertandingan Farid Riskiansyah langsung meniup peluit panjang tanda pertandingan telah berakhir.

Sebenarnya, dibandingkan pertandingan-pertandingan sebelumnya, laga melawan Malaka tidak terlalu berat. Bahkan, saat menghadapi POPB Jakarta di penyisihan Grup B dan Tunas Palapa Ternate di semifinal lebih berat.

”Di babak pertama pun, kami sempat terbawa irama permainan lawan. Mengandalkan bola-bola panjang dan itu bukan karakter ASTI Kudus,” ungkap Ayi, sapaan karib Arif Budiyanto.

Untung, di babak kedua, pelatih Suharno mengingatkan anak didiknya. Hasilnya, ASTI Kudus mendominasi permainan dan tinggal menunggu waktu mencetak gol.

”Semoga gelar juara ini semakin menambah semangat pemain ASTI berlatih dan memotivasi rekan-rekannya di beda kelompok umur,” tandas Ayi yang juga mantan pemain Persiku Kudus Junior tersebut.

Keberhasilan ASTI Kudus semakin lengkap dengan terpilihnya Suharno sebagai pelatih terbaik dan Akbar merengkuh gelar pencetak gol terbanyak dan juga pemain terbaik. (sip)

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *