Stadion ini pernah jadi buah bibir. Kualitas rumput dan fasilitasnya membuat insan bola mengacungkan jempol. Bagaimana kondisinya kini.
SIDIQ PRASETYO, pinggir lapangan
SEBUAH tawaran untuk menyaksikan laga Piala Suratin U-17 datang. PSSS Situbondo yang dilatih arek Sidoarjo, Adi Putra Setiawan, mengundang untuk bisa hadir di pertandingan Babak 32 Besar Piala Suratin U-17. Lawan yang dihadapi pun bukan tim main-main, Persibo Bojonegoro. Tim ini dikenal banyak melahirkan pemain bintang dari level junior.
Pikiran saya, pertandingan pasti dilaksanakan di stadion kebanggaan Kota Ledre, julukan Kabupaten Bojonegoro, itu stadion Letjend H. Soedirman. Namun, ternyata salah. Pertandingan untuk memperebutkan tiket ke babak 16 besar itu dilaksanakan di Stadion Mini Gayam.
Tempat ini pernah saya dengar. Katanya, lapangannya kategori sangat bagus. Wah, menarik juga untuk didatangi, pikir saya.
Pukul 07.00, saya berangkat dari rumah di Sidoarjo menuju Terminal Purabaya, Bungurasih, yang berjarak 10 kilometeran. Setengah jam sampai dan langsung naik bus jurusan Bojonegoro. Dengan membayar Rp 40 ribu dan masuk Tol Surabaya-Gresik, tarif tersebut termasuk murah. Hanya, bus yang saya naiki tidak ada AC dan juga charger di atas tempat duduk layaknya bus-bus baru sekarang.
Selama di tol, perjalanan nyaman dan lancar. Nah, kebosanan mulai tumbuh saat keluar dari Tol Bunder, Gresik, atau Tol Kebomas. Melewati jalan biasa, kemacetan mulai terjadi. Apalagi, setelah itu, bus yang saya naiki berhenti di pertigaan Babat, pertigaan yang masuk wilayah Kabupaten Lamongan, yang menjadi persimpangan antara ke Semarang, Jawa Tengah, via Tuban dan ke Bojonegoro.
Setengah jam dari Babat, barulah sampai ke Kota Bojonegoro. Saya sampai terminal kota itu pukul 11.30.Ternyata, Stadion Mini Gayam lokasinya bukan di kota.
”Harus naik lagi bus jurusan Ngawi. Turun ke pertigaan Clangap terus naik ojek. Bayarannya bisa ditawar antara 20 ribu-25 ribu,” jelas sopir bus yang saya naiki dari Terminal Purabaya.
Sebuah bus kecil yang tengah mencari penumpang pun saya masuki. Dengan tujuan Clangap, nama sebuah pedukuhan yang terletak di Desa Sumengko, Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Saya pun mengeluarkan uang Rp 15 ribu dan mengingatkan kepada kondektur bus tentang tempat saya turun nanti.
Setengah jam lebih, rasa curiga menghampiri. Saya membaca tulisan Kecamatan Padangan, sebuah kecamatann paling ujung Bojonegoro dan juga Jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah. Kecurigaan saya terbukti.
”Maaf, maaf. Clangap sudah lewat tadi. Penumpang banyak membuat saya lupa kalau ada yang turun di Clangap,” kata sang kondektus bus Bojonegoro-Ngawi yang saya naiki.
Dengan kondisi itu, saya turun di Terminal Padangan. Rasanya ingin berlama-lama di daerah itu karena Padangan termasuk sebuah daerah lama dan punya ikatan dengan saya. Almarhum Ibu pernah bercerita bahwa beliau pernah sekolah di daerah tersebut. Itu terjadi saat mengantar almarhumah perjalanan pulang ke Solo dengan melewati Padangan tembus Ngawi dengan melewati Hutan Watu Jago.
”Benar ini ke Clangkap. Bayarnya Rp 10 ribu dan saya jamin tidak terlewati lagi,” canda konduktur bus yang sekilas saya baca bertuliskan Cendana.
Memang benar, saya turun di pertigaan Clangkap dan menyeberang jalan. Ada 4 orang tengah duduk dan mendugaan mereka adalah tukang ojek offline atau pangkalan. Mereka kemudian menunjuk salah satu orang untuk mengantar ke Stadion Mini Gayam.
”Ongkosnya terserah mau dikasih berapa,” ujar tukang ojek sambil menggeber gasnya.
Di perjalanan, tukang ojek itu mengakui dulunya juga pemain Persibo Junior. Hanya tuntutan ekonomi yang membuat dia harus merantau ke beberapa daerah sebelum akhirnya pulang kembali.
”Saya asli Clangkap. Saya di atas Samsul (Arip Munip, mantan pemain nasional asal Bojonegoro). Ada pertandingan sepak bola ya di Gayam,” ucapnya.
Ternyata, cukup jauh jarak dari pertigaan Clangap ke Stadion Mini Gayam. Hanya jalan yang dilalui sudah bagus karena dibetonisasi. Sekitar 20 menitan perjalanan yang dilalui.
Sebuah lapangan bola sudah terlihat dari samping karena stadion tersebut tidak tertutup 100 persen. Hingga akhirnya pukul 13.10, saya baru masuk ke stadion.
Sungguh di luar dugaan. Lapangan Stadion Mini Gayam yang pernah viral karena bagus dan hijau sudah berubah. Beberapa tempat sudah berlubang dan rumputnya sudah coklat.
”Memang tidak mudah merawat lapangan sepak bola. Sayang juga bisa jadi seperti ini,” jelas salah satu petugas pertandingan Babak 32 Besar Piala Suratin U-17 2025.
Pemilihan Stadion Mni Gayam sebagai venue Piala Suratin U-17 2025 , kata salah satu pengurus Persibo Ali Mahmud, untuk pemerataan. Biar, ujarnya, pertandingan tidak hanya dilaksanakan di kota atau Stadion Letjend H. Soedirman.
”Kebetulan juga di halaman Stadion Soedirman lagi ada kegiatan,” paparnya.
Akhirnya, keinginanan yang sudah terpendam lama untuk datang ke Stadion Mini Gayamn tercapai. Sayang, kondisi stadion yang sangat dekat dengan tempat perusahaan energi tersebut tak seindah bayangan. (*)
