Pertandingan trofeo di Lapangan Tropodo, Krian, bukan sembarang laga antar sekolah sepak bola. Ada sosok-sosok legendaris yang mendampingi timnya.
SIDIQ PRASETYO, Pinggir Lapangan
SEORANG berkaos hijau tengah menjadi wasit anak-anak di Lapangan Tropodo, Krian, Sidoarjo, pada Senin (18/8/2025). Panas terik matahari tak mengurangi semangatnya dalam memimpin pertandingan antara sekolah sepak bola (SSB) Tunas Jaya Sepande, Candi, Sidoarjo, dengan anak didiknya sendiri, SSB Putra Tropodo.
Keringat menetes dari beberapa bagian tubuhnya. Hingga akhirnya, dia kemudian meniup peluit panjang sebagai tanda pertandingan pemain yang usianya di bawah 12 tahun itu sudah selesai.
Sekilas, orang yang belum paham sosok tersebut pasti melihat hanya sebagai pelatih. Bukan sebagai mantan pemain apalagi berstatus bintang dan legenda. Bagaimana tidak, badan sang wasit dan juga pelatih itu sudah terlihat tambun.
Padahal, laki laki bernama Edy Sarwono itu pernah berkompetisi di kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Mulai berkibar namanya di Mitra Surabaya, Edy Sarwono yang lebih populer dengan panggilan Edy John itu semakin melambung namanya ketika membela Persijap Jepara.
Di tim berjuluk Laskar Kalinyamat itu, Edy John bahkan dipercaya menjadi kapten. Status yang tak sembarang pemain bisa mendapatkan.
”Ah itu dulu. Sekarang saya sudah tua dan jadi pelatih SSB,” katanya.
Menariknya, di Lapangan Tropodo, selain Edy John ada dua mantan bintang sepak bola dan juga menyandang status legenda. Kebetulan mereka menangani satu tim, SSB Tunas Jaya Sepande. Mereka adalah Zainuri dan Jefri Dwi Hadi.
Keduanya mempunyai latar belakang yang tak kalah panjangnya. Bahkan, dari sisi prestasi, keduanya pernah merasakan juara dan tampil di pentas internasional.
Zainuri pernah menjadi bagian Arema ketika dua kali menjadi juara Piala Indonesia. Sementara Jefri menjadi bagian Persik Kediri saat menjadi juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim 2006. Zainuri dan Jefri pun bermain bersama di Macan Putih, julukan Persik, saat berlaga di Liga Champions Asia 2006.
”Sekarang kami sama-sama sudah tak muda lagi. Saatnya membina dan melahirkan pesepak bola yang semoga bisa melebihi prestasi kami,” ujar Zainuri.
Deretan legenda lapangan hijau di SSB Tunas Jaya masih ada dua nama lagi, Rosyidi dan Joko Hariyanto. Rosyidi menjadi gelandang bertahan sekaligus tukang angkut air di Persekabpas Kabupaten Pasuruan. Sementara Joko adalah legenda hidup klub Kalimantan Selatan, Barito Putera Banjarmasin. (*)
